Saya tidak pernah membayangkan kalau saya pun mengalami kejadian geblek ini bahkan di mimpi buruk pun kejadian seperti ini tidak pernah nongol. Sewaktu itu saya sedang menunggu bis di depan Tebah Petrol karena saya mau pergi ke City Centre (salah satu mall besar di Qatar) untuk menonton film Indiana Jones terbaru bersama seorang teman. Sudah lebih dari satu jam saya menunggu tetapi tidak ada taksi yang lewat. Tak berapa lama sebuah taksi gelap (di Qatar biasa disebut car lift) melintas dan berhenti di depan saya. Dia menawarkan tumpangan dan menawarkan QR15 ke City Centre. Karena waktu sudah mepet tanpa berpikir panjang saya pun menyetujuinya. Awalnya saya ingin duduk di belakang tapi dia menwarkan duduk di depan. Akhirnya saya menyetujuinya. Tak ada terlintas perasaan curiga sama sekali karena dia sangat ramah. Kami berkenalan. Dia berasal dari Syria. Dia tidak bisa berbahasa Inggris sama sekali. Selama perjalanan perasaaan saya sangat tidak enak. Perjalanan sangat lama dan spertinya berputar-putar tidak jelas. Tiba-tiba, dia mulai menyentuh tangan saya.dan saya menepisnya. Waduh mati mampus! Saya benar-benar salah naik taksi. Saya naik taksi dengan supir sakit jiwa. Ketika mendekati City Centre dia (maaf) mulai meremas-remas kemaluannya. Hiiii…Mengerikan sekali! Saya bingung dan ketakutan antara ingin menghentikan taksi ini atau tidak. Untungnya saya sudah mendekati City Centre. Saya berteriak meminta dia untuk menghentikan mobilnya. Dia menghentikan mobilnya. Mukanya yang tadinya saya kira ramah berubah menjadi marah seperti ingin menerkam.. Saya diberhentikan di roundabout tidak begitu jauh dari City Centre. Dengan nada tinggi dia berkata, “money!”. Saya berikan uang QR15 dan langsung keluar dari taksi. Dia ingin memegang punggung saya tapi tidak sempat karena tangannya saya tepis. Saya berjalan menunju City Centre sambil gemeteran karena ketakutan sembari meratapi kebodohan saya yang sangat ceroboh sekali. Saya jadi teringat cerita-cerita seram di tanah Arab yang diceritakan teman-teman bagaimana sangat berbahayanya bagi wanita berpergian sendiri. Saya betul-betul kecolongan. Mendadak, saya menjadi ketakutan melakukan perjalanan sendiri. Kejadin itu bener-benar membekas di hati saya.
Kejadian itu membuat saya mengerti bahwa melakukan perjalanan sendiri sangatlah berbahaya. Saya terdiam sejenak dan berpikir apakah saya akan melakukan perjalanan sendiri lagi. Apakah kejadian itu akan memadamkan semangat perjalanan saya ketika jauh dilubuk hati ada perasaan yang mengelora ingin melihat dunia di seberang sana. Melihat kehidupan lain di luar diri saya. Saya seolah-olah berdiri di persimpangan di dalam keraguan antara berhenti berjalan atau meneruskan perjalanan. Saya berusaha menanggulangi perasaan traumatik saya. Tidak ada jalan lain, saya harus mengatasi semua perasaan takut itu.
Saya sungguh menarik pelajaran berharga dari kejadian itu. Saya akan lebih berhati-hati dan tidak bersikap naïf. Sekarang sih saya sudah baik-baik saja dan sudah bisa menertawakan kebodohan saya sendiri dan tentu saja tetap melanjutkan petualangan saya yang lain lagi.